Ad Code

Responsive Advertisement

Suksesi Iran dari perspektif Intelejen

 


IG Balqis Humaira 77 | Duduk santai dahulu, karena kami hendak membawa tuan menuju langsung ke pusat gravitasi krisis geopolitik paling gila abad ini. Berita kematian Ayatullah Ali Khamenei akibat rudal presisi AS dan Israel itu memang sudah sah, dan seketika dunia, terutama media-media Barat, langsung koar-koar membangun narasi kalau ini adalah akhir dari segalanya. Mereka berfikir, "Oke, kepala ularnya telah dipancung, badannya pasti mati." Secara teori di atas kertas, logikanya memang mudah sangat untuk dicerna. Tapi, kalau kita bedah anatomi kekuasaan ini pakai kacamata realitas lapangan dan psikologi gelap dari sebuah rezim, tuan akan sadar satu fakta dingin: kekuasaan yang sudah mengakar lebih dari empat puluh tahun itu tak pernah, dan tak akan pernah, dirancang untuk bergantung sama detak jantung satu orang tua sahaja.

Imam Khamenei itu bukan cuma sekadar pemimpin spiritual yang duduk manis di masjid, beliau itu arsitek utama dari sebuah mesin raksasa yang super kompleks. AS dan Israel mungkin merasa menang karena mereka berfikir kematian mendadak ini akan menciptakan ruang hampa udara, sebuah power vacuum (kekosongan kekuasaan) yang akan membuat faksi-faksi di dalam Iran saling gorok leher satu sama lain.

Tapi yang mereka hadapi justeru sebuah sistem yang mirip mitologi Hydra. Tuan tebas satu kepalanya, sistem daruratnya otomatis hidup, jauh sebelum darahnya sempat menetes ke tanah. Di detik rudal itu menghantam, konstitusi Iran itu sudah punya semacam protokol kiamat yang langsung aktif. Tak ada jeda waktu buat terpana. Begitu Imam Khamenei dipastikan tewas, Dewan Kepemimpinan Sementara langsung ngambil alih kemudi. Bayangkan ini semacam mode autopilot di pesawat komersial yang pilot utamanya baru saja terkena serangan jantung fatal. Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Kehakiman, dan satu pentolan dari Dewan Garda langsung berbagi kunci brankas negara dan kendali militer. 

Tugas mereka di momen awal ini cuma satu, yaitu memastikan mesin negara tetap hidup dan menghantam habis semua potensi kerusuhan di jalanan. Tuan dapat menerka, operasi intelijen dan jam malam pasti langsung dieksekusi. Mereka sengaja membuat fasad bahwa negara tak sedang panik. Kalau berduka, jelas iya, buktinya ada 40 hari masa berkabung. Tapi panik? Sama sekali tidak. Sistem ini dirancang sedemikian rupa biar tak ada sedetik pun keraguan di mata para jenderal militer apalagi publik soal siapa yang sedang memegang komando.

Nah, dari sini perbincangan kita bakal masuk ke pertanyaan yang paling sering membuat orang penasaran. Kalau Imam Khamenei sejenius itu merancang sistem, kenapa beliau tak pernah nunjuk penerusnya secara terang-terangan dari dulu?

Di titik inilah tuan dapat ngelihat betapa dalamnya pemahaman Imam Khamenei soal dark psychology dalam politik praktis. Di banyak dinasti atau rezim otoriter yang lain, menunjuk "Putra Mahkota" sejak awal itu justru kesalahan fatal. Kenapa? Karena saat tuan mengumumkan satu nama ke khalayak, itu sama sahaja tuan menjadikan ia sasaran tembak berjalan.

Kalau Imam Khamenei nekat menunjuk satu nama, lima atau sepuluh tahun lalu, faksi oposisi, intelijen musuh macam Mossad atau CIA, dan pesaing-pesaing internal di Iran punya waktu bertahun-tahun untuk menghancurkan kandidat itu. Caranya berbagai macam, bisa melalui pembocoran skandal, pembunuhan karakter pelan-pelan, atau yang paling ekstrem ya pembunuhan fisik. Tuan ingat kasus mendiang Presiden Ebrahim Raisi yang tewas kecelakaan helikopter belum lama ini? Sampai sekarang kejadian itu masih menyisakan banyak sekali tanda tanya di kalangan intelijen lapangan. Jadi, Imam Khamenei sadar betul, cara paling aman untuk melindungi penerusnya adalah dengan menyembunyikan orang itu di ruang terbuka.

Beliau biarkan sahaja publik dan intelijen asing menebak-nebak buah manggis, sementara beliau diam-diam merancang sistem seleksi yang seratus persen sudah beliau perkirakan dari hulu sampai ke hilir. Bicara soal merancang, kita harus membahas Majelis Ahli atau Assembly of Experts. Secara hukum konstitusi mereka, yang berhak milih Pemimpin Tertinggi baru itu ya dewan yang isinya 88 ulama tua ini. Kalau didengarkan sekilas, sistemnya terasa demokratis dan religius sekali, kan? Tapi mari kita bongkar trik sulap di balik panggungnya. Imam Khamenei itu orang yang sangat perhitungan. Dia tahu, saat dia mati mendadak serupa sekarang, 88 orang ini bisa sahaja debat kusir berbulan-bulan, beradu pendapat tak berkesudahan, atau yang paling berbahaya, memilih orang yang salah dan melenceng dari visinya.

Terus apa yang beliau lakukan untuk mencegah itu? Beliau melakukan proses penyeleksian bagi para ulama yang akan duduk di kuris Majelis Ahli, ulama-ulama tersebut diseleksi oleh Dewan Garda. Dan coba terka siapa yang milih separuh anggota Dewan Garda itu? Ya Imam Khamenei sendiri. Ini adalah sebuah feedback loop kekuasaan yang sempurna sekali. Puncaknya kelihatan di pemilu awal tahun 2024 kemarin, di mana Dewan Garda mendiskualifikasi hampir semua ulama moderat (SEPILIS), reformis, dan siapa pun yang punya rekam jejak suka berbeda pandangan dengan rezim.

Hasilnya jelas, 88 orang yang sekarang duduk di Majelis Ahli itu sepenuhnya murni masih berpegang teguh pada Syari'at Allah, orang-orang yang ideologinya terjaga dari pengaruh asing. Jadi, siapa pun yang akan mereka pilih nanti, itu sesungguhnya representatif dari Hukum Syari'at itu sendiri.

Jadi begini, memperbincangkan ulama dan konstitusi itu baru separuh jalan. Kalau tuan hendak tahu siapa pemegang saham mayoritas yang sebenarnya dari negara bernama Republik Islam Iran ini, jawabannya bukan orang-orang yang pakai serban di dewan. Jawabannya adalah Korps Garda Revolusi Islam atau yang sering kita sebut IRGC. Ini bukan hanya tentara reguler yang menunggu perintah. IRGC itu adalah konglomerat bersenjata, oligarki legal elit yang nguasai urat nadi ekonomi negara dari mulai ladang minyak, jaringan telekomunikasi, proyek konstruksi raksasa, sampai jadi bosnya proksi-proksi militer di Timur Tengah seperti Hizbullah, Houthi, dan milisi Irak. Imam Khamenei selama hidupnya selalu manjain mereka. Dia kasih mereka akses dana yang nyaris tanpa batas dan kekuasaan absolut yang bikin mereka kebal hukum.

Dan di sinilah plot twist-nya makin tajam. Siapa orang yang selama belasan tahun terakhir ini sering sekali jadi perantara Khamenei yang makin renta dengan para jenderal IRGC berdarah dingin ini? Jawabannya adalah anak kandungnya sendiri, Mojtaba Khamenei.

Sosok Mojtaba ini jujur sahaja menarik sekali kalau tuan suka membedah sisi gelap dari sebuah kekuasaan yang absolut. Secara formal, dia ini tak punya jabatan publik apa-apa. Tuan tak akan menemukan dia pidato berapi-api di mimbar atau di depan TV. Tapi hampir semua badan intelijen Barat tahu persis kalau Mojtaba adalah puppet master sesungguhnya di belakang layar pemerintahan ayahnya. Dia yang selama ini mengontrol operasional harian kantor Pemimpin Tertinggi atau yang dikenal dengan sebutan Bayt. Dia yang mengatur manajemen di kantor ayahnya, dan yang paling krusial, dia punya hubungan persaudaraan darah yang sangat erat dengan para jenderal elite IRGC dan unit-unit intelijen negara. 

Jadi, harapan buat Iran bisa terus bertahan pasca shahidnya Imam Khamenei itu bertumpu sepenuhnya pada satu variabel kunci: apakah para elit jenderal di dalam tubuh IRGC itu bisa tetap solid dan tak pecah kongsi? Selama kue ekonomi negara dan porsi kekuasaan masih bisa dibagi rata di antara faksi-faksi internal mereka, mereka bakal dengan sangat cepat merapatkan barisan. Kenapa? Karena mereka semua sadar betul, kalau Rezim Mullah ini sampai runtuh dari dalam, kerugian mereka bukan cuma soal kehilangan jabatan atau proyek miliaran dolar. Mereka tahu, kalau mereka akan digantung di alun-alun kota oleh rakyat Iran yang udah muak dan marah selama puluhan tahun, atau nasibnya berakhir diburu satu per satu oleh armada drone milik Amerika dan Israel. Kesamaan nasib dan rasa takut yang absolut inilah yang justru jadi lem paling kuat buat menahan struktur negara Iran dari kehancuran total.

Kesimpulannya, kalau tuan bertanya seberapa besar persentase kemungkinan Iran untuk tetap berdiri kuat dan melalui badai ini, kami akan bilang kemungkinannya jauh lebih tinggi daripada narasi pesimis yang sedang dijual sama analis-analis di TV Barat. Imam Khamenei itu bukan pemain amatir, beliau sudah menyiapkan semacam algoritma suksesi yang anti-retak jauh sebelum rudal itu meledak.

AS dan Israel mungkin sedang euforia merasa menang telak karena berhasil mengeksekusi simbol tertinggi musuh bebuyutan mereka. Tapi tanpa mereka sadari, dalam prosesnya mereka justru sedang mempercepat transisi Iran dari yang tadinya sebuah teokrasi yang dibungkus agama, menjadi kediktatoran militer yang murni dan jauh lebih blak-blakan. Dan ketahuilah, sebuah institusi militer yang sedang terpojok, merasa berduka, tapi tetap memegang kendali penuh atas persenjataan canggih dan program nuklir rahasia, adalah entitas yang jauh lebih rasional, tanpa kompromi, dan pastinya lebih mematikan. Mesinnya udah diprogram ulang, dan sekarang tinggal menunggu waktu sahaja buat lihat siapa yang bakal berani menekan tombol start-nya.


Post a Comment

0 Comments