Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup bercermin bangkai"Bunuhlah aku, perang tidak akan berakhir, saya sudah senja, tubuhku lemah, peperangan bukan milik saya, ini milik pemuda Iran, sungguh bukan seorang lelaki yang kalian lawan tetapi sebuah bangsa yang sedang mempertahankan martabatnya"(Syahid Imam Ali Khamanei)
IG Bareng Sirah | Kita berbeda mazhab & manhaj dengan Imam Khamenei. Dan itu adalah fakta yang tidak perlu kita sembunyikan. Kita Ahlussunnah wal Jamaah, dan perbedaan itu nyata, dalam, dan prinsipil.
Tapi hari ini, bukan perbedaan fikih yang ingin kita renungkan. Yang ingin kita renungkan adalah ini: Ketika Nabi ﷺ memperingatkan tentang fitnah, beliau tidak berbicara untuk satu mazhab saja. Beliau berbicara untuk seluruh umat. Dan fitnah itu sedang terjadi, bukan di masa lalu, bukan dalam buku sejarah, melainkan sekarang, di depan mata kita.
Umat yang terpecah karena label. Pemimpin yang jatuh bukan karena musuh, tapi karena pengkhianatan dari dalam tubuh kaum muslimin. Suara-suara yang seharusnya bersatu, malah sibuk saling menyerang.
-----------
Lelaki yang Membuat Israel Tidak Bisa Tidur & Hadits yang Seolah Memperingatkan Nasibnya
Masyhad, 19 April 1939. Dinding tanah. Angin musim dingin. Tidak ada harta yang diwariskan, hanya satu hal yang lebih berharga dari segalanya: Keberanian berbicara kebenaran dihadapan penguasa yang zalim.
Ayahnya, Ayatullah Jafar Khamenei, adalah ulama yang hidupnya habis untuk kitab dan umatnya, bukan untuk jabatan dan kemewahan.
"Ayah saya seorang ulama, bukan orang kaya." ujar Ali Khamenei
Dari pondok itu, lahir sosok yang kelak membuat CIA dan Mossad kehilangan tidur selama 35 tahun belakangan ini. Enam kali ia masuk penjara. Disiksa SAVAK; dinas rahasia rezim Syah Mohammad Reza Pahlevi yang terkenal tidak mengenal batas.[1]
Pada 27 Juni 1981, bom tersembunyi dalam perekam suara meledak di mimbar masjid. Tangan kanannya cacat selamanya. Namun setiap kali ia keluar dari penjara, suaranya justru lebih keras. Setiap kali tubuhnya dilukai, jaringannya justru lebih luas. Ada manusia yang semakin ditekan, semakin kuat akarnya menghujam bumi.
Raja-raja bergelimang emas, membisu soal Palestina. Presiden-presiden berdasi rapi, mengangguk di hadapan Washington. Tapi lelaki ini memilih tinggal di rumah biasa, menolak kontrak dengan perusahaan minyak asing, menolak bank-bank Barat masuk ke negaranya. Sanksi berlapis dijatuhkan. Pembunuhan karakter dilancarkan. Rencana-rencana gelap dirancang, sebagian bocor dari dokumen intelijen CIA dan Mossad. Semuanya gagal.
Sebab bagaimana cara tuan menghancurkan seseorang yang sedari kanak-kanak dididik untuk tidak mencintai dunia?
Barat menyebutnya proxy war: seolah perlawanan rakyat Gaza, Lebanon, dan Yaman hanyalah bidak catur di tangan Teheran. Tapi coba tanyakan pada rakyat Gaza yang pintu bantuannya ditutup satu per satu, siapa yang masih mau berdiri saat bangsa arab & negara muslim lainnya sibuk dengan urusannya sendiri?
Di bawah kepemimpinannya, Iran membangun jaringan dukungan ke Hizbullah di Lebanon, ke faksi-faksi perlawanan di Gaza, ke milisi di Irak pasca invasi 2003, ke gerakan Houthi di Yaman. Barat menyebut ini ancaman regional. Mereka menyebutnya pertahanan maju, mencegah perang masuk ke perbatasan Iran sendiri. Dua narasi. Satu peta. Yang mana kebenaran? biarlah sejarah yang menimbang.
Di balik semua keteguhan itu, ada peringatan yang lebih tua dari semua ini, yang tidak memandang siapa pemimpinnya, tidak memandang apa mazhabnya.
Rasulullah ﷺ bersabda: "Akan terjadi berbagai fitnah. Yang duduk diam lebih selamat dari yang berdiri. Yang berdiri lebih selamat dari yang berjalan. Yang berjalan lebih selamat dari yang berlari menuju fitnah itu." (HR. Bukhari Muslim)
Bukan peringatan tentang musuh dari luar. Ini peringatan tentang badai yang lahir dari dalam. Tentang siapa yang makin vokal, makin aktif, makin menonjol, makin tampak, maka makin pula berbahaya keamanan dirinya.
Sejarah Islam punya pola yang menyakitkan untuk dibaca, namun berbahaya untuk diabaikan. Utsman bin Affan RA; Khalifah ketiga. Hafizh Al-Qur'an. Dibunuh bukan oleh tentara Roma atau Persia. Dibunuh oleh mereka yang datang sambil membawa mushaf, yang mengepung rumahnya empat puluh hari, lalu menyerangnya saat ia sedang membaca Al-Qur'an.
Ali bin Abi Thalib RA; Sepupu dan menantu Nabi ﷺ. Tidak pernah kalah di medan perang manapun. Jatuh di Subuh 19 Ramadan 40 H, oleh pedang beracun Ibnu Muljam, seorang lelaki yang mengira pembunuhan itu adalah ibadah. Keduanya tidak jatuh karena musuh luar. Keduanya jatuh karena fitnah dari dalam.
Inilah yang para ulama sebut Al-Fitnah Al-Kubra. Itu masa awal islam, bagaimana jika di fitnah serupa akhir zaman? tentu jauh lebih Kubra. Ibarat kata sesuai hadits peristiwa pembunuhan Utsman dan Ali adalah sugra, dan pembunuhan pemimpin yang akan kita hadapi adalah yang benar-benar kubra.
Kita berbeda mazhab dengan beliau..dan itu tidak perlu kita tutup-tutupi. Tapi hari ini, bukan soal perbedaan fikih, aqidah, atau mazhab yang perlu kita renungkan. Peringatan Nabi ﷺ tentang fitnah tidak diturunkan untuk satu kelompok saja. Ia diturunkan untuk seluruh umat. Dan fitnah itu sedang terjadi, bukan dalam buku sejarah, melainkan di depan mata kita hari ini: Umat yang terpecah karena label. Pemimpin yang jatuh bukan oleh musuh, tapi oleh pengkhianatan dari dalam oleh sesama pemimpin muslimin lainnya. Suara-suara yang seharusnya bersatu, sibuk saling melemahkan.
Sebelum kita menghakimi siapapun, ada pertanyaan yang lebih mendesak: Di zaman penuh fitnah ini di mana posisi kita berdiri? Disamping pemimpin yang diperangi oleh pelaku genosida, atau justru duduk disebelah pelaku itu sendiri.
Sejarah tidak berhenti berulang. Hadits Nabi ﷺ tidak pernah salah.
Yang berubah hanya nama dan wajahnya. Polanya? selalu sama
"Saya sudah tua, tubuh saya lemah. Namun pertarungan ini bukan milik saya. Ini milik pemuda Iran. Anda tidak melawan seorang pria, tetapi sebuah bangsa yang mempertaruhkan martabatnya." - Ayatullah Ali Khamenei
Jika ini membuka sesuatu dalam dada tuan, bagikan kepada satu orang yang perlu membacanya. "Menurut tuan, fitnah terbesar umat Islam hari ini datang dari mana?"
==========
Catatan kaki oleh Admin:
[1] SAVAK (bahasa Persia: ساواک, singkatan dari سازمان اطلاعات و امنیت کشور Sāzemān-e Ettelā'āt va Amniyat-e Keshvar, secara harfiah "Organisasi Keamanan dan Intelijen Nasional") adalah dinas polisi rahasia, keamanan, dan intelijen dalam negeri di Iran pada masa pemerintahan Dinasti Pahlavi. Lembaga ini didirikan oleh Syah Mohammad Reza dengan bantuan Badan Intelijen Pusat A.S. (CIA) dan Mossad Israel. SAVAK beroperasi sejak tahun 1957 hingga Revolusi Iran tahun 1979, SAVAK dibubarkan oleh Perdana Menteri Shapour Bakhtiar saat pecahnya Revolusi Iran. SAVAK digambarkan sebagai "institusi paling dibenci dan ditakuti" Iran sebelum revolusi karena praktik penyiksaan dan eksekusi penentang rezim Pahlavi yang dilakukannya.

0 Comments