IG Balqis Humaira 77 | Tuan tahu tahu apa kelemahan terbesar dari para politisi elit yang duduk di Washington, London, atau bahkan di Senayan sana? Kelemahan terbesar mereka adalah privilege. Hak istimewa.
Sebagian besar dari mereka lahir di atas karpet sutra. Mereka disuapi pakai sendok perak sejak bayi. Mereka sekolah di sekolah internasional yang uang pangkalnya bisa buat ngasih makan satu kelurahan. Mereka kuliah di Ivy League, Oxford, atau kampus mentereng lainnya, belajar ilmu politik dari buku teks tebal karangan profesor yang seumur hidupnya nggak pernah ngerasain kelaparan. Lalu, mereka pulang, dikasih modal sama bapaknya atau oligarki backing-annya, bikin baliho segede gaban, dan voila! Mereka jadi pembuat kebijakan.
Orang-orang macam ini, politisi karbitan yang mentalnya lembek macam tahu sutra, terbiasa menyelesaikan masalah dengan dua cara: disuap pakai duit, atau diancam pakai bekingan. Mereka pikir seluruh dunia beroperasi dengan sistem transaksional yang dangkal itu.
Lalu, mereka berhadapan dengan Ayatullah[1] Ali Khamenei. Dan mereka bingung setengah mati kenapa sanksi ekonomi berjilid-jilid, ancaman militer, dan tawaran diplomasi triliunan dolar mental begitu saja kayak kerikil dilempar ke dinding tank.
Kenapa? Karena Khamenei bukan "anak mami" jebolan Harvard. Dia tak pernah belajar politik dari buku teori. Dia belajar anatomi kekuasaan, pengkhianatan, dan cara bertahan hidup dari institusi pendidikan paling kejam di dunia: Universitas Alam Takambang Jadi Guru dan Sel Penjara Berdarah.
Kalau tuan hendak memahami kenapa Datuk Gaek ini punya strategic patience yang mematikan dan sama sekali tak punya ruang di otaknya untuk percaya dengan janji manis Barat, tuan mesti mundur ke masa lalunya. Tuan harus mencium bau amis darah di ruang interogasi, dan tuan harus mendengar suara ledakan yang merobek saraf tangannya.
Frankestein Ciptaan CIA Bernama SAVAK[2]
Mundur ke tahun 1960-an dan 1970-an. Jauh sebelum revolusi pecah, Iran itu adalah "anak emas" kebanggaan Amerika Serikat di Timur Tengah. Pemimpinnya, Shah Mohammad Reza Pahlavi, adalah diktator flamboyan yang hobi main ski di Swiss, mengoleksi mobil sport mewah, dan menggelar pesta triliunan rupiah di reruntuhan Persepolis, sementara rakyat jelata di pinggiran Teheran mati kelaparan dan makan roti keras.[3]
Terdengar familiar dengan kelakuan pejabat dan anak pejabat di negeri ini yang gemar pamer barang mewah rubicon sementara rakyatnya antri beras murah? Polanya memang selalu sama. Untuk melindungi kekuasaan absolutnya dan memastikan minyak terus mengalir murah ke Barat, Shah dibantu oleh CIA dan Mossad untuk mendirikan sebuah organisasi intelijen domestik yang sangat brutal bernama SAVAK.
Biar kami beri gambaran, SAVAK itu bukan sekadar polisi rahasia, Mereka itu mesin teror. Kalau tuan berani mengkritik Shah di kedai kopi, besoknya tuan akan hilang. Di penjara-penjara rahasia macam Komite Gabungan Anti-Sabotase di Teheran, SAVAK mempraktikkan metode penyiksaan yang bikin preman paling sadis sekalipun bakal kencing di celana. Mereka nyabut kuku tahanan hidup-hidup, menyentrum alat kelamin, sampai memanggang orang di atas ranjang besi panas. Dan tebak siapa yang melatih agen-agen SAVAK ini? CIA. Ya, agen intelijen dari negara yang hari ini paling berisik ceramah soal "Hak Asasi Manusia".
Di sinilah Imam Khamenei muda "ditempa". Sebagai seorang ulama muda yang kritis dan pengikut setia Ayatollah Ruhollah Khomeini, Khamenei adalah target operasi. Beliau bukan tokoh yang duduk manis di belakang meja menyuruh orang lain demo. Beliau turun ke jalan, mengorganisir massa bawah tanah, dan mendistribusikan selebaran anti-pemerintah.
Hasilnya?
Antara tahun 1962 sampai 1975, Khamenei ditangkap dan dijebloskan ke penjara SAVAK sebanyak enam kali. Coba tuan resapi fakta itu sebentar. Enam kali.
Tuan bayangkan rasanya dilempar ke sel isolasi berukuran 1x2 meter yang lembab, gelap, dan bau kencing berbulan-bulan. Tak ada cahaya matahari, tak tahu kapan siang, bila malam. Di satu momen, agen-agen SAVAK mencukur paksa janggutnya—sebuah penghinaan psikologis yang sangat fatal bagi seorang ulama Syiah. Dia dipukuli, diinterogasi berjam-jam tanpa henti, dan dipaksa mendengarkan jeritan tahanan lain yang sedang disiksa di ruangan sebelah.
Di titik inilah furqan (pembeda) dalam otaknya terbentuk secara permanen. Rasa sakit fisik dan isolasi itu tak menghancurkan mentalnya; sebaliknya, itu membakar habis semua kenaifan di dalam dirinya.
Di dalam sel penjara yang sedingin es itu, Khamenei muda belajar satu pelajaran geopolitik yang tak akan pernah diajarkan di Oxford: Barat itu munafik. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Amerika dan Inggris berteriak soal kebebasan dan demokrasi di PBB, tapi di saat yang sama, mereka menyuplai alat setrum dan melatih algojo SAVAK untuk menyiksa rakyat Iran. Sejak saat itu, di mata Khamenei, dokumen diplomasi, resolusi PBB, dan janji-janji kedutaan Barat harganya lebih murah dari tisu toilet bekas. Barat cuma mengerti satu bahasa: Kekuatan.
Kalau tuan lemah, tuan akan diinjak dan disiksa. Kalau tuan melawan dan punya senjata, mereka baru mau duduk di meja perundingan. Ini adalah mentalitas survivor. Mentalitas orang yang sudah make peace with death (berdamai dengan kematian)
Ketika politisi Barat di Capitol Hill mencoba menggertak Khamenei dengan ancaman, "Kami akan menghancurkan ekonomi kalian!", Khamenei mungkin cuma senyum sinis di dalam hatinya. Dia pernah kehilangan segalanya, dia pernah ditelanjangi kehormatannya di ruang interogasi, dia pernah menatap wajah malaikat maut enam kali. Gertakan politisi berjas mahal yang takut kehilangan kursi di pemilu depan tak akan pernah bisa mengintimidasi pria yang pernah tidur di atas lantai beton penjara SAVAK.
Percobaan Pembunuhan
Alat perekam tersebut meledak tepat di depan dadanya karena telah dipasang bom C4 di dalamnya. Kekuatan ledakan melempar tubuh Imam Khamenei ke belakang, menyebabkan luka parah pada bagian dada, leher, dan lengan kanannya. Paru-parunya mengalami kolaps dan saraf di lengan kanannya mengalami kerusakan berat. Pita suaranya hampir putus, jama'ah panik berteriak, mengira sang ulama sudah mati di tempat.
Kondisinya saat itu sangat kritis dan segera dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani operasi darurat selama berjam-jam. Meskipun mengalami luka-luka yang sangat fatal secara medis, proses pemulihan tetap berlanjut setelah melewati masa koma selama beberapa hari. Kejadian ini meninggalkan dampak permanen, terutama pada fungsi lengan kanannya.
Namun, harga yang harus dibayar sangat mahal. Tangan kanannya lumpuh permanen, kehilangan fungsi motoriknya sama sekali. Sampai hari ini, kalau tuan melihat video Imam Khamenei sedang berpidato atau bersalaman, beliau selalu pakai tangan kiri. Tangan kanannya kaku, sering disembunyikan di balik jubah atau diletakkan diam di atas paha. Suara beliaupun berubah menjadi lebih berat dan serak karena kerusakan pita suara.
Monumen Peringatan Berjalan
Coba posisikan diri tuan di posisi beliau masa itu, apa gerangan yang ada di dalam kepala Imam Khamenei saat beliau baru sadar dari koma dan melihat tangan kanannya mati rasa untuk selamanya. Ini adalah momen breaking point (titik patah) yang mengubah seorang ulama politis menjadi seorang arsitek kekuasaan yang berdarah dingin. Tangan kanan yang kaku itu bukan sekadar cacat fisik. Tangan itu adalah monumen peringatan seumur hidup yang selalu dia bawa ke mana-mana. Sebuah alarm reminder biologis yang terus berteriak di otaknya setiap detik: "Musuhmu tidak akan pernah berhenti, tidak akan pernah bernegosiasi, sampai tubuhmu hancur berkeping-keping."
Orang Barat sering mengeluh kenapa Iran sangat obsesif membangun milisi proksi di Lebanon dan Yaman, atau kenapa mereka mati-matian bikin rudal balistik. Jawabannya ada pada lengan kanan Khamenei yang lumpuh itu.
Imam Khamenei tahu bahwa dunia ini tidak digerakkan oleh niat baik atau hukum internasional. MEK—kelompok yang mengebomnya itu—tahu-tahu bertahun-tahun kemudian malah dilindungi oleh negara-negara Barat, bahkan dicabut dari daftar organisasi teroris oleh Amerika Serikat demi dipakai sebagai pion untuk melawan Teheran.
Melihat kemunafikan gila macam itu, wajar kalau Imam Khamenei mencoret kata "Percaya" dari kamus otaknya. Beliau membangun doktrin pertahanan Iran dengan asumsi dasar yang sangat pesimistis namun realistis: Semua orang di luar perbatasan adalah serigala yang siap menerkam, dan satu-satunya cara untuk tidak dimakan adalah dengan memelihara anjing-anjing herder yang lebih buas di halaman rumah musuh
Kenapa Dolar tak Mempan?
Sekarang tuan fahamkan kenapa pendekatan diplomatik ala politisi Barat (atau politisi korup Senayan) tak pernah mempan ke beliau?
Tuan bayangkan sahaja utusan diplomatik Eropa atau Amerika datang menawarkan paket pencabutan sanksi bernilai ratusan miliar dolar asalkan Iran mau melucuti program rudalnya. Bagi politisi biasa yang tujuannya hanya menumpuk harta di luar negeri atau mengamankan kekuasaan dan kekayaan untuk tujuh turunannya, tawaran triliunan dolar itu adalah tiket ke surga. Mereka bakal langsung tanda tangan, jual aset negara, lalu bikin konferensi pers sambil senyum palsu ke kamera bilang ini "demi perdamaian".
Tapi tuan tak dapat menyuap Imam Khamenei dengan duit atau kemewahan. Hendak tuan suap pakai apa? Beliau tinggal di rumah yang sangat sederhana. Karpet di ruang tamunya usang. Beliau nggak punya rekening gendut di Swiss Bank buat diancam dibekukan. Beliau tak punya aset properti di London. Beliau tak mabuk kekayaan, karena buat orang yang pernah menunggu giliran dieksekusi di penjara bawah tanah dan dadanya pernah dibelah oleh bom, duit kertas itu tak ada harganya.
Kekuasaan bagi Khamenei bukan tentang menikmati fasilitas VIP, dihormati pakai voorijder, atau nyari cuan dari proyek pemerintah. Kekuasaan baginya adalah alat bertahan hidup (survival tool) yang mutlak. Kekuasaan adalah satu-satunya perisai yang mencegah dirinya dan negaranya kembali dilempar ke sel gelap untuk disiksa oleh agen-agen asing. Itulah yang bikin Washington frustrasi setengah mati. Mereka berhadapan dengan The Unbribable System (Sistem yang Tidak Bisa Disuap). CIA dan Mossad terbiasa membeli pejabat korup di seluruh dunia untuk dijadikan agen ganda. Tapi gimana cara mereka membeli kesetiaan dari seorang pemimpin tertinggi yang tidak takut miskin, tidak takut sakit, dan menganggap kematian (syahid) sebagai exit plan yang mulia?
Mentalitas survivor inilah yang melahirkan kebijakan Strategic Patience. Imam Khamenei tak reaktif karena beliau tahu bahwa penderitaan itu sementara. Beliau pernah menunggu bertahun-tahun di dalam penjara Shah sampai akhirnya rezim itu runtuh sendiri dari dalam. Beliau mengaplikasikan ilmu "menunggu dalam diam" itu ke level negara. Beliau membiarkan Amerika menghambur-hamburkan triliunan dolar di Irak dan Afghanistan sampai bangkrut dan kelelahan sendiri, sementara Iran cuma ngirim intelijen dan duit receh buat milisi proksi untuk bikin tentara AS babak belur.
Lulusan Universitas Alam Takambang Jadi Guru ini sedang mengajari para sarjana Ilmu Politik Ivy League bagaimana cara memenangkan peperangan tanpa perlu mendeklarasikannya. Tapi, punya mentalitas baja aja belum cukup untuk mengatur negara sebesar dan sekompleks Iran. Tuan boleh sahaja kebal peluru dan tak suka duit, tapi kalau tuan tak tahu cara mengelola macan-macan lapar di bawah tuan, tuan akan dikudeta oleh anak buah tuan sendiri.
Imam Khamenei sadar, untuk melindungi revolusinya, dia butuh monster penjaga. Sebuah institusi militer yang loyalitasnya dibeli pakai darah dan monopoli ekonomi. Dan di titik inilah, sang survivor berevolusi menjadi seorang Pemimpin Besar yang mengendalikan Angkatan Bersenjata terbesar di Timur Tengah: Garda Revolusi Islam (IRGC).
===============
Catatan Kaki oleh Admin:
[1] Ayatullah (bahasa Arab: آية الله, translit. Āyatullāh, bahasa Persia: آيتالله) adalah gelar tertinggi yang diberikan kepada ulama Syi'ah. Kata ini berarti "Bukti dari Allah" dan mereka yang memiliki gelar tersebut ahli dalam studi tentang Islam, seperti Syari'ah (Hukum Islam), filsafat, etika, mistik dan biasanya mengajar di sekolah pengetahuan tentang Islam (hauzah) atau pesantren kalau di Indonesia. Gelar di bawah Ayatullah adalah Hojætol-Islam ("Ahli tentang Islam").
[2] SAVAK (bahasa Persia: ساواک, singkatan dari سازمان اطلاعات و امنیت کشور Sāzemān-e Ettelā'āt va Amniyat-e Keshvar, secara harfiah "Organisasi Keamanan dan Intelijen Nasional") adalah dinas polisi rahasia, keamanan, dan intelijen dalam negeri di Iran pada masa pemerintahan Dinasti Pahlavi. Lembaga ini didirikan oleh Syah Mohammad Reza dengan bantuan Badan Intelijen Pusat A.S. (CIA) dan Mossad Israel. SAVAK beroperasi sejak tahun 1957 hingga Revolusi Iran tahun 1979, SAVAK dibubarkan oleh Perdana Menteri Shapour Bakhtiar saat pecahnya Revolusi Iran. SAVAK digambarkan sebagai "institusi paling dibenci dan ditakuti" Iran sebelum revolusi karena praktik penyiksaan dan eksekusi penentang rezim Pahlavi yang dilakukannya.
[3] Roti adalah makanan pokok utama di Iran, dengan jenis pipih (flatbread) tradisional yang paling mendominasi. Roti yang paling populer dan ikonik meliputi Sangak, Lavash, Barbari, dan Taftoon. Roti ini biasanya dipanggang segar setiap hari dalam oven tandoor atau di atas batu kerikil panas, sering dinikmati dengan keju, rempah, atau kebab.

0 Comments