
(Perpindahan berduyun-duyun
pengikut Dajjal dari Isfahan hingga ke Madinah)
oleh: Sang Pembantah (The Argumentator)
Adalah “Ibu yang salehah” ini mengabarkan, bahwasanya di hari kemudian kelak, bandar Mekah dan Madinah akan dibersihkan dari segala orang yang berpura-pura (munafik) serta orang yang mengingkari kebenaran (kafir). Seberapa pun benci kalbu Tuan-Tuan sekalian, ia mendakwa bahwa negara Saudi tetaplah negeri yang paling elok (terbaik).
Wahai, cobalah Tuan-Tuan pikirkan perkara ini perlahan-lahan. Jikalau tempat kediaman Tuan hendak dibersihkan dari tikus pada esok pagi, bukankah itu berarti pada malam ini di dalam tempat kediaman Tuan masih bersarang tikus-tikus itu? Tiada mungkin gerangan Tuan menyapu dan menyikat tempat kediaman yang memang sudah elok dan bersih. Tuan mengayunkan sapu semata-mata karena ada duli (debu) yang mengotorinya.
Maka daripada itu, jikalau Nabi yang mulia bersabda bahwa di hari depan bandar Madinah akan disuci-bersihkan dari orang yang berpura-pura (munafik) dan orang yang mengingkari kebenaran (kafir), maka timbangan akal yang paling bersahaja—yang anak-anak mengaji pun maklum adanya—menyatakan bahwa pada masa sekarang ini di sana memang sedang bersarang orang-orang yang demikian. Jikalau tiada bersarang di sana, untuk apakah gerangan bandar itu dibersihkan? Adakah hendak menyapu angin yang lalu?
Nah, perkara inilah yang menerbitkan pertanyaan di dalam kalbu kita: Tuan-Tuan sekalian yang saban hari berseru-seru bahwa pancuran ilmu itu semata-mata terbit dari Mekah dan Madinah, adakah Tuan benar-benar percaya bahwa Tuan tiada sedang menimba ilmu dari tikus-tikus yang belum sempat enyah itu? Adakah Tuan percaya sungguh bahwa yang Tuan turutkan itu bukan orang-orang yang berselubung lahirnya dengan Islam melainkan batinnya mengingkari kebenaran (kafir)? Bukankah Nabi sendiri yang telah bersabda bahwa mereka itu ada bermukim di sana pada masa sekarang?
Kemudian, berkatalah pula orang bahwa negara Saudi tetaplah negeri yang paling elok (terbaik). Baiklah, jikalau ia yang paling elok (terbaik), mengapa pula Allah subhanahu wa ta'ala perlu mengguncangnya sampai tiga kali berturut-turut hingga seluruh orang yang munafik dan mengingkari kafir itu terpental enyah? Jikalau ia sudah elok benar, tentulah tiada perlu diguncang-guncang lagi. Emas murni tiada usah diguncang sekadar untuk menyatakan kemurniannya. Yang perlu diguncang dan dipalu itu adalah hamparan permadani yang sarat dengan duli (debu) kotoran.
Adapun perkataan Nabi sudah terang bersuluh. Nabi bersabda bahwa kelak akan enyah orang-orang yang mengingkari kebenaran (kafir) serta orang yang berpura-pura (munafik) dari Madinah berjalan menuju ke arah Dajjal. Perhatikanlah dengan seksama: jalannya meniti ke arah Dajjal, bukan berlari menjauhi Dajjal! Mereka enyah dari Madinah semata-mata hendak menyambut kedatangan penghulu mereka.
Perkara ini teramat menarik hati. Selama bertahun-tahun ini, telinga kita senantiasa disuapi cerita bahwa bala tentara Dajjal itu hanyalah terbit dari Isfahan saja, dari bahagian Iran, dari kaum Syiah, guna menyudutkan satu pihak semata. Padahal Nabi dengan segala ketulusan bersabda, yang terbit dari Isfahan itu adalah kaum Yahudi; Nabi menyebut nama kaum itu dengan benderang. Dan tampaknya, ramalan (nubuwat) itu telah mewujud pada tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh sembilan, tatkala terjadi perpindahan besar-besaran tujuh puluh ribu jiwa kaum Yahudi dari Iran menuju ke Negeri Palestina yang dijajah oleh kaum yang menamai diri mereka dengan nama Israel pada masa sekarang, ke Amerika, dan negeri-negeri lain disebabkan pergolakan (revolusi) Iran yang mengancam nyawa mereka. Melainkan, yang dari Madinah? Bilakah gerangan perkara itu akan mewujud? Wallahu a'lam. Namun, kita semua sedang menanti-nanti masanya.
Nabi tiada bersabda tentang kaum Yahudi untuk bandar itu. Nabi bersabda tentang orang yang mengingkari kebenaran (kafir) dan berpura-pura (munafik).
Adakah didapati orang yang mengingkari kebenaran (kafir) secara benderang di Madinah pada masa sekarang? Tiada sekali-kali! Semuanya memakai baju gamis, semuanya mendirikan shalat di Masjid Nabawi. Maka daripada itu, maksud Nabi yang sesungguhnya ialah orang-masing yang mengingkari kebenaran (kafir) namun mendakwa dirinya orang Islam. Surat keterangannya (KTP-nya) Islam, sorbannya berselubung Islam, melainkan kelakuannya telah mencampakkan Kitab Suci Al-Qur'an dan menjadikan musuh-musuh Allah sebagai sekutu setianya.
Sekarang, jikalau bandar Madinah diguncang pada hari ini, kira-kira siapakah gerangan yang akan melompat enyah terlebih dahulu? Jawablah dengan jujur di dalam lubuk kalbu Tuan-Tuan sekalian. Adakah orang-orang yang memeluk erat musuh yang membantai anak-anak di Gaza itu akan tetap tinggal di dalam, ataukah mereka akan ikut enyah demi menyongsong kedatangan Dajjal?
Maka, selama ini Tuan-Tuan sibuk menunjuk jari ke Isfahan, menunjuk ke Iran, menunjuk ke Syiah sebagai bala tentara Dajjal, hingga Tuan-Tuan lupa bahwasanya Nabi juga bersabda bahwa ada bala tentara Dajjal yang bakal keluar dari Madinah. Suatu bala tentara yang pakaian lahirnya serupa benar dengan pakaian yang Tuan-Tuan kenakan.
Oleh karena itu, janganlah terburu-buru mendakwa Saudi sebagai negara yang paling elok sambil memicingkan mata. Keelokan itu bukan karena letak tanahnya, melainkan karena perangai dan perbuatannya. Bandar Mekah dan Madinah itu mulia karena zat tanahnya, tetapi orang-orang yang mendudukinya belum tentu bersifat demikian. Berhentilah menjual nama tanah yang suci semata-mata untuk membela kebusukan tabiat penghuninya. Bandar Mekah dan Madinah akan tetap mulia, bahkan setelah seala orang yang berpura-pura (munafik) itu enyah dari sana.
Wa billahi taufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum wr.wb.
0 Comments