
Fajar tadi, masuk sebuah pesan rahasia ke dalam kotak surat kami dari seorang perempuan yang mengaku kaum pergerakan sunah (Salafi Wahabi). Sungguh pun demikian, isi pesannya tiada mencerminkan budi luhur. Ia meminta kami menurunkan tulisan yang menyatakan rasa iba dan pembelaan terhadap perguruan (pondok) kemuslimahan Hammalatul Qur'an. Alasannya, haluan perguruan tersebut tidak sejalan dengan golongan yang kami anut (Salafi-Wahabi), melainkan condong pada manhaj yang lain.
Maka, jawaban keras namun adil telah kami layangkan seketika:
"Takutlah engkau kepada Allah, wahai Saudari! Tiadakah selayaknya engkau menyimpan rasa iba melihat anak-anak perempuan seagama yang suci tanpa dosa dianiaya, ditakut-takuti, dan diancam dengan senapan laras panjang oleh orang-orang berseragam? Mengapa engkau menutup mata hanya karena mereka bukan bagian dari golonganmu?
Perkara ke mana haluan manhaj perguruan itu condong, sama sekali bukan urusan yang sedang kami perbincangkan di sini. Kami berdiri di mimbar ini atas nama membela kehormatan kaum perempuan yang telah diinjak-injak dengan keji!
Ambilah sebuah perumpamaan: Jikalau ada seorang perempuan tetanggamu hendak dinodai oleh penjahat di depan matamu, sedangkan engkau memiliki daya untuk menolongnya, apakah engkau akan berdiam diri dahulu seraya bertanya: 'Apakah gerangan aliran kepercayaan tetanggaku ini?' Sungguh picik pikiran yang demikian!
Para pemuka agama yang lurus tiada pernah membenarkan segala bentuk kezaliman dan kejahatan yang merampas hak serta kehormatan diri kaum perempuan. Terlebih-lebih kepada para santriwati yang bersih dari dosa dan kesalahan.
Janganlah engkau membawa-bawa nama aliran (manhaj) yang lurus jika rasa kepedulianmu hanya engkau peruntukkan bagi kelompokmu sendiri!
Cobalah engkau bayangkan jikalau anak perempuanmu sendiri yang tiada bersalah diperlakukan sekejam itu. Sedang mereka tengah lelap tidur tanpa penutup aurat yang sempurna di malam buta, tiba-tiba pintu didobrak oleh segerombolan laki-laki asing. Mereka mengacungkan senapan, membentak dengan ancaman, memaksa anak-anak itu meniarap, bahkan melarang mereka mengenakan kain penutup muka dan kerudung.
Jikalau engkau benar-benar seorang perempuan dan seorang ibu yang memiliki kebaikan hati, kami percaya semestinya engkau akan naik pitam melihat kehormatan kaummu dinodai. Itu pun, jikalau engkau masih memiliki rasa kemanusiaan!"
===========
Disalin dari kiriman FB Abu Zain, dialih bahasakan ke Bahasa Indonesia Asli oleh Admin
==========
Baca Juga:
1. Anak Perawan VS Polisi
2. Kronik Sebuah Malang: Kesewenang-wenangan di atas Tanah Sukoharjo
3. Penyerbuan Ponpes Putri Hamalatul Qur'an Sukoharjo: Perlawanan Balik Lewat Pembusukan
4. Tingkah Laku Aparat yang Melampai Batas
5. Salafi: Batas Kemanusiaan sebatas Manhaj
6. Petaka Sukoharjo: Ketika Bendera Tauhid di Fitnah
0 Comments