Ad Code

Responsive Advertisement

𝗗𝗮𝗿𝗮𝗵 𝗡𝗮𝗯𝗶 𝗠𝗲𝗻𝗴𝗮𝗹𝗶𝗿 𝗱𝗶 𝗜𝗿𝗮𝗻: 𝗧𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗟𝗮𝘆𝗮𝗸𝗸𝗮𝗵 𝗞𝗶𝘁𝗮 𝗠𝗲𝗺𝗯𝗲𝗹𝗮𝗻𝘆𝗮?

 


Prof. Dr. KH. Afifuddin Harisah Lc. MA*
FB Postingan Kisah Ulama & Sejarah Nusantara | Ketika kita membaca kitab hadits Bukhari dan Muslim di pesantren, pernahkah kita menyadari bahwa kedua imam agung itu adalah orang Persia? Bahwa sebagian besar ulama yang mewariskan ilmu Nabi lahir dari tanah yang dulu disebut Persia, kini bernama Iran? Ironisnya, masih banyak umat Islam yang 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘨𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘐𝘳𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘻𝘩𝘢𝘣 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘱𝘳𝘰𝘱𝘢𝘨𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘉𝘢𝘳𝘢𝘵. Padahal fakta sejarah membuktikan: 𝘐𝘳𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘐𝘴𝘭𝘢𝘮, 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘱𝘢𝘥𝘶 𝘴𝘦𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘧𝘪𝘴𝘪𝘬 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘕𝘢𝘣𝘪 𝘔𝘶𝘩𝘢𝘮𝘮𝘢𝘥 𝘚𝘈𝘞. Hubungan ini bukan sekadar simbolis, tapi ikatan nasab yang nyata dan terus berlanjut hingga hari ini.
Ketika pasukan Islam di masa Khalifah Umar bin Khattab menaklukkan Persia, 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘶𝘴𝘯𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘱𝘢𝘥𝘶𝘢𝘯 𝘢𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢𝘣𝘢𝘯. Putri terakhir Kisra Persia, Syahrbanu, dinikahkan dengan Husain bin Ali, cucu kesayangan Rasulullah. Dari rahim putri Persia itu lahir Ali Zainal Abidin, Imam keempat yang dihormati kaum muslimin. Artinya, 𝘴𝘦𝘭𝘶𝘳𝘶𝘩 𝘐𝘮𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯𝘢𝘯 𝘏𝘶𝘴𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘨𝘪𝘯𝘨 𝘗𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘪𝘩𝘢𝘬 𝘪𝘣𝘶. Mereka adalah bukti hidup 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘐𝘴𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘵𝘶 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘱𝘶𝘵𝘶𝘴. Imam Ja'far Shadiq, Imam Musa Kadzim, hingga Imam Mahdi yang diyakini, semuanya mewarisi darah Persia. Jadi ketika kita bicara Iran, kita sedang bicara tentang sanak saudara kita sendiri, keturunan Nabi yang lahir dari rahim ibu-ibu Persia.
Dalam sejarah keilmuan Islam, bangsa Persia menjadi pilar utama. Nabi SAW bersabda, "Seandainya iman itu berada di gugusan bintang Tsurayya, niscaya orang-orang dari Persia akan meraihnya."
Terbukti, siapa yang membukukan hadits-hadits Nabi? Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa'i, Ibnu Majah, semuanya dari Persia.
Siapa yang merumuskan tata bahasa Arab agar Al-Qur'an terbaca benar? Imam Sibawaih, orang Persia. Siapa ulama tasawuf, filsafat, kedokteran, dan astronomi yang mengharumkan Islam? Rata-rata keturunan Persia.
Ironis jika ada muslim yang merendahkan Iran, padahal ilmu agamanya diwarisi dari ulama Persia. Tanpa mereka, kita mungkin masih bingung membedakan hadits shahih dan dhaif. 𝘋𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘵𝘦𝘭𝘦𝘬𝘵𝘶𝘢𝘭 𝘗𝘦𝘳𝘴𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘶𝘭𝘶𝘩 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘪𝘭𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘐𝘴𝘭𝘢𝘮.
Lalu bagaimana dengan realitas politik hari ini? Perhatikan dengan jujur peta Timur Tengah. Negara-negara Arab tidak sungkan-sungkan lagi menjalin hubungan mesra dengan Israel. Normalisasi terjadi di mana-mana. Yang dulu vokal membela Palestina, kini diam seribu bahasa.
Di tengah hipokritisme itu, siapa yang masih berani menyatakan anti zionis-israel? Siapa yang masih memasok senjata dan uang ke Hamas? Siapa yang konsisten membangun poros perlawanan dari Teheran hingga Beirut? Jawabannya hanya satu: Iran.
Dukungan mereka kepada Palestina bukan basa-basi politik, tapi doktrin ideologis sejak Revolusi Islam 1979. Mereka tidak pernah mengakui Israel, tidak pernah menjual Palestina demi investasi, dan tidak takut ancaman AS.
𝘔𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘢 𝘐𝘳𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘢 𝘘𝘶𝘥𝘴, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘭𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘐𝘴𝘭𝘢𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘪𝘯𝘫𝘢𝘬-𝘪𝘯𝘫𝘢𝘬.
Jika propaganda Barat berhasil menjatuhkan Iran, tamatlah riwayat perlawanan terhadap Zionis di kawasan ini.
𝘋𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘕𝘢𝘣𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘭𝘪𝘳 𝘥𝘪 𝘐𝘳𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘣𝘦𝘭𝘢, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘧𝘢𝘯𝘢𝘵𝘪𝘴𝘮𝘦 𝘮𝘢𝘻𝘩𝘢𝘣, 𝘵𝘢𝘱𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘬𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘦𝘳𝘢𝘣𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢.*****
*) Guru Besar UIN Alauddin Makassar


Post a Comment

0 Comments