Sosok seperti apa diri kita setelah Ziarah mencerminkan apa yang sebenarnya kita petik darinya...
Alhamdulillah, kini saya telah kembali ke rumah dari perjalanan Arba’een. Selama beberapa minggu terakhir, saya membagikan banyak renungan singkat di Instagram—dari Kadhmayn, Samarra, Najaf, dan Karbala. Saya sangat berharap renungan-renungan itu bermanfaat. Saya membagikannya karena ingin kita melihat melampaui apa yang tampak oleh mata selama Ziarah dan bertanya pada diri sendiri: apa yang ingin Allah SWT ajarkan kepada saya melalui apa yang saya saksikan ini?
Sangat mudah untuk kembali dari tanah suci dengan ribuan foto dan kenangan indah. Namun, pertanyaan yang sesungguhnya adalah: apa yang turut kembali bersama kita di dalam hati? Jika Karbala hanya tersimpan dalam galeri foto ponsel kita, maka hanya sedikit yang kita bawa pulang. Ziarah yang sejati semestinya terus berlanjut di dalam diri kita, jauh setelah kaki kita melangkah keluar dari Haram.
Mungkin inilah cara kita mengukur keberhasilan sebuah Ziarah. Apakah salat saya menjadi lebih baik? Apakah saya merasa lebih berat untuk melakukan dosa? Apakah saya bersikap lebih santun kepada orang tua dan keluarga? Apakah saya lebih peduli terhadap kaum tertindas? Apakah ikatan saya dengan Al-Qur’an semakin kuat? Apakah saya lebih sering mengingat Imam al-Mahdi (AJTF)? Perbedaan antara diri saya sebelum dan sesudah Ziarah mungkin lebih menunjukkan apakah Ziarah itu diterima dibandingkan hal lainnya.
Dan setiap Ziarah seharusnya membawa kita lebih jauh melangkah dibandingkan sebelumnya. Jika saya pernah mengunjungi Imam al-Husayn (AS) bertahun-tahun lalu dan kembali lagi hari ini dengan *ma’rifah* (pengenalan) yang lebih dalam, rasa tanggung jawab yang lebih besar, serta tekad yang lebih kuat untuk berubah, maka saya telah mengalami kemajuan. Jika tidak, tahun demi tahun bisa berlalu sementara jiwa kita tetap diam di tempat yang sama. Tubuh kita tidak boleh terus-menerus mendatangi Karbala sementara karakter kita tertinggal di belakang.
Salah satu pelajaran terbesar dari perjalanan ini adalah bahwa Arba’een merupakan sebuah sekolah persiapan. Semangat pelayanan (*khidmah*), pengorbanan, persaudaraan, kepedulian terhadap sesama, perlawanan terhadap penindasan, serta kasih sayang yang kita saksikan sepanjang perjalanan kaki tersebut adalah ciri-ciri masyarakat yang kita harapkan akan dibangun oleh Imam al-Mahdi (AJTF). Kita tidak bisa menghabiskan waktu berhari-hari mengagumi sifat-sifat mulia ini di Karbala, lalu meninggalkannya begitu saja saat kembali ke rumah. Jika kita mendambakan masyarakat yang bernapaskan nilai-nilai Mahdawi, kita harus mulai membangun pribadi-pribadi Mahdawi di dalam diri kita sendiri. Namun, ada satu hal dari Arba’een ini yang akan terus membekas dalam ingatan saya untuk waktu yang sangat lama. Allah berfirman mengenai mereka yang gugur di jalan-Nya: "Bahkan, mereka hidup di sisi Tuhan mereka dengan mendapat rezeki." (3:169). Saya sudah berkali-kali membaca ayat ini sebelumnya. Tahun ini, saya merasa seolah-olah Arba’een memungkinkan kita menyaksikan perwujudan nyata dari ayat tersebut.
Para syuhada itu terasa begitu hidup. Wajah, kata-kata, pengorbanan, serta jalan dan tempat suci yang mereka bela senantiasa hadir di sepanjang perjalanan. Ada yang baru saja meninggalkan dunia ini, ada pula yang telah tiada berabad-abad silam, namun entah bagaimana mereka terus membimbing orang-orang yang masih hidup. Saya memahami lebih dalam bahwa syahadah (kemartiran) tidak mengakhiri misi seorang mukmin. Terkadang, darahnya justru mulai berbicara lebih lantang setelah kepergiannya.
Kini tiba bagian yang sulit... kembali ke rumah. Karbala adalah tempat di mana hati mudah melunak. Namun, perjuangan yang lebih berat adalah menjaga hati itu tetap lembut saat kehidupan sehari-hari kembali berjalan. Ujian sesungguhnya dari Arba’een dimulai ketika pakaian hitam dilipat dan disimpan, koper dibongkar, foto-foto tak lagi dibagikan, dan tak seorang pun di sekitar kita mengetahui janji-janji yang telah kita ikrarkan kepada Imam (AS).
Maka, kepada saudara-saudari terkasih, dan kepada diri saya sendiri sebelum siapa pun juga: jangan biarkan Arba’een sekadar menjadi peristiwa yang kita alami. Pastikan hal itu menjadi sesuatu yang mengubah diri kita. Bawalah semangat Imam al-Husayn (AS) ke dalam rumah, karakter, pilihan hidup, perjuangan, serta pengabdian Anda kepada sesama. Dan ketika sosok Husayn di zaman kita, Imam al-Mahdi (AJTF), memandang mereka yang mengaku menantikannya, semoga beliau mendapati bahwa perjalanan kita ke Karbala telah mempersiapkan kita untuk melangkah—meski hanya satu langkah tulus—menuju ke arah beliau.
0 Comments