Pembaruan dari Kementerian Kesehatan di Gaza:
-Dalam 24 jam terakhir, rumah sakit di Gaza menerima enam syuhada, termasuk dua yang baru tewas dan empat yang ditemukan dari bawah reruntuhan, bersama dengan 34 lainnya yang terluka.
-Banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan karena tim penyelamat tidak dapat menjangkau mereka di tengah kurangnya kemampuan pencarian dan penyelamatan.
-Sejak gencatan senjata berlaku pada 11 Oktober, Tentara Penjajah Israel telah membunuh 906 rakyat Palestina dan melukai 2.747 lainnya.
-Korban terbaru ini menjadikan total korban tewas yang tercatat di Gaza sejak 7 Oktober 2023 menjadi 72.803 syuhada dan 172.855 yang terluka.
=============
Hamas: Pembantaian Kolonial Kriminal di Kamp Pengungsi Al-Maghazi Merupakan Kelanjutan Genosida dan Pelanggaran Gencatan Senjata
Juru bicara Gerakan Hamas, Hazim Qassim, pada hari Selasa mengatakan bahwa pembantaian baru yang dilakukan oleh Kaum Penjajah pagi ini di kamp pengungsi Al-Maghazi di Jalur Gaza tengah dan penargetan kendaraan sipil Khan Younis di Jalur Gaza selatan, yang mengakibatkan sejumlah korban jiwa dan luka-luka. Merupakan kelanjutan dari genosida terhadap rakyat Palestina di Gaza dan pelanggaran gencatan senjata.
Dalam sebuah pernyataan, Qassem menganggap Dewan Perdamaian sebagian bertanggung jawab atas kelalaian, kebungkaman, dan adopsi posisi Penjajah Zionis, menekankan bahwa "peningkatan operasi genosida di Gaza menggaris bawahi sejauh mana penghinaan Penjajah Zionis terhadap semua upaya mediator dan negara penjamin."
Juru bicara Hamas menambahkan bahwa waktu pembantaian ini, yang bertepatan dengan hari ritual Arafah dan ibadah haji umat Muslim, "semakin memperlihatkan sifat rasis penjajah dan menegaskan pengabaiannya terhadap perasaan umat Muslim dan ritual keagamaan mereka."
==========
Pernyataan Pers | Desakan Kolonial Zionis untuk mempertahankankan apa yang disebut "Garis Oranye" di Jalur Gaza merupakan upaya nyata dan berkelanjutan untuk melemahkan perjanjian gencatan senjata, pelanggaran serius terhadap ketentuan-ketentuannya, dan upaya terang-terangan untuk memaksakan fakta baru di lapangan dengan kekerasan; yang bertujuan untuk mengkonsolidasikan kendali militer atas Gaza dan melemahkan setiap peluang nyata untuk stabilitas atau upaya gencatan senjata.
Perilaku agresif ini menegaskan kembali bahwa Pemerintah Penjajah Fasis sengaja menyabotase upaya para mediator, dan melanjutkan kebijakan penundaan dan pengingkaran komitmennya, seiring dengan peningkatan operasi pembunuhan, kelaparan, dan blokade, serta penerapan tindakan di lapangan untuk mengubah status quo, secara terang-terangan menentang semua pemahaman dan jaminan yang telah disepakati.
Oleh karena itu, kami menuntut para mediator untuk memberikan penjelasan resmi dan mendesak mengenai apa yang disebut sebagai "Garis Oranye," dan untuk menyatakan posisi mereka yang jelas mengenai langkah berbahaya ini.
Kami menyerukan kepada mereka untuk mengeluarkan pernyataan publik yang menolak pelanggaran berat terhadap perjanjian ini dan memaksa penjajah untuk segera membatalkannya dan menghentikan semua tindakan sepihak yang mengancam jalan menuju gencatan senjata dan memperburuk penderitaan rakyat Palestina.
Kami juga menyerukan kepada media, penulis, elit politik, dan masyarakat merdeka di dunia untuk mengintensifkan upaya media dan politik untuk mengungkap niat dan kejahatan penjajah yang bertujuan untuk memperketat cengkeramannya atas Gaza dan memaksakan persamaan baru dengan kekuatan militer, dan untuk memperingatkan bahaya kebungkaman internasional mengenai kebijakan agresif ini.
==============
Hamas Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha kepada Rakyat Palestina, Menyerukan Persatuan dan Solidaritas
Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menyampaikan ucapan selamat kepada rakyat Palestina dan umat Arab dan Islam pada Hari Raya Idul Adha yang penuh berkah, menyerukan persatuan dan peningkatan dukungan untuk perjuangan Palestina.
Dalam sebuah pernyataan, Hamas mencatat bahwa Idul Adha tahun ini datang di tengah genosida, kelaparan, dan pengepungan yang sedang berlangsung di Gaza, serta rencana pemukiman di Tepi Barat dan Yerusalem.
"Pemerintah Penjajah Fasis terus menutup perbatasan, memblokir bantuan kemanusiaan, dan meningkatkan agresinya terhadap rakyat, tanah, dan tempat-tempat suci kami – yang secara terang-terangan melanggar semua norma internasional," kata Hamas.
Juga mendesak agar hari raya Idul Adha digunakan untuk meningkatkan solidaritas dan mengakhiri pengepungan di Gaza. "Kami berdiri bersama rakyat kami yang teguh di Gaza, Tepi Barat, Yerusalem, dan para perantau untuk berbagi kegembiraan Idul Adha meskipun ada rasa sakit, agresi, dan pengepungan," Hamas menyimpulkan, seraya bersumpah untuk melanjutkan "perjuangan hingga pembebasan tanah, Masjid Al-Aqsa, dan para tahanan."
26 Mei 2026 | Situs web resmi - Gerakan Hamas
0 Comments