Ad Code

Responsive Advertisement

Hidup Mandiri atau Dimanja Harta

 


Iran dan Saudi
Disclaimer[1] dulu, saya bukan pemuja Iran, apalagi Syi'ah. Jelas bukan. Tapi kalau dituduh membenci para penguasa yang tunduk kepada negara-negara Barat imperialis, saya akan mengaku, iya.
FB Ramane Ranu | Kurang kaya apa Saudi itu? Selama puluhan tahun, mereka menikmati kemakmuran dari minyak. Itu dimungkinkan karena stabilitas. Stabilitas ini didapat dari hubungan baik dengan "dunia internasional" dan kerjasama yang "saling menguntungkan" dengan kekuatan ekonomi-militer terbesar di dunia.
Tentu saja super power dunia punya kepentingan terhadap Saudi. Namun Saudi mampu mengelola kepentingan luar itu sedemikian rupa sehingga tak terasakan sebagai tekanan. Saudi membuka diri terhadap Amerika dalam proyek-proyek pembangunan infrastruktur dan teknologi tinggi. Saudi ikut memberi pasokan minyak yang stabil kepada dunia, termasuk AS dan negara-negara Barat. Saudi menjual minyaknya dengan dolar AS, sehingga memperkuat kedudukan ekonomi AS. Meskipun punya Aramco, namun Saudi banyak bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan AS dan Barat lainnya dalam mengekslorasi minyaknya.

Uang Saudi yang begitu besar juga diinvestasikan ke perusahaan-perusahaan Barat. Saudi pun membelanjakan uangnya untuk memperkuat pertahanan dan keamanannya di "gerai-gerai" alutsista AS, baik pesawat tempur, kapal perang, sistem pertahanan udara, dan lain-lain. FYI, Saudi adalah konsumen peralatan militer terbesar AS di dunia dengan total nilai kontrak mencapai ratusan miliar dolar AS.

Tidak hanya itu, atas nama keamanan dalam negeri, Saudi pun mempersilahkan AS untuk menempatkan pasukan dan alat-alat perang mereka di pangkalan-pangkalan militer yang lahannya disediakan oleh Saudi. Singkat kata, ini begitu empuk bagi AS. Tak ada alasan untuk mengganggu stabilitas Saudi. Rakyat Saudi pun tak mengenal rasanya penderitaan. Ini yang disyukuri oleh para syaikh, dan kunci stabilitas dalam negeri, di samping doktrin keagamaan yang menempatkan ketaatan penuh kepada raja sebagai ciri "akidah" yang lurus.
Namun sejatinya, ada "harga" yang harus dibayar dari stabilitas yang -pada kadar tertentu- bergantung kepada kekuatan luar itu. Saudi akan berpikir berkali-kali dalam mengambil berbagai keputusan dan memposisikan diri dalam berbagai isu politik internasional dalam rangka menjaga stabilitas tersebut. Saudi tidak akan bebas mengambil langkah tanpa mempertimbangkan "bagaimana reaksi AS terhadap langkah Saudi tersebut" mengingat uang mereka ada di AS, pemeliharaan alutsista mereka bergantung pada AS, dan kekuatan militer AS ada di dalam pekarangan mereka. Itulah mengapa, dalam persoalan yang sangat mencolok saja, seperti genosida di Gaza, Saudi dengan segala kekayaannya tidak bisa bersikap layaknya "lelaki sejati" bagi dunia Islam.
Meski mereka mengklaim sebagai "negara tauhid", namun keyakinan akan akidah yang shahih itu hanya bertaring pada ranah perdebatan teologis melawan madzhab-madzhab internal dalam Islam. Kenyataannya, mereka terlalu cinta kepada stabilitas, terlalu takut kehilangan segala capaian kenikmatan. "Tauhid" itu tidak memberi daya juang, tidak memberi mental yang tangguh, tidak memberi keberanian untuk berdiri tegak di atas kebenaran, tidak memberi wibawa di hadapan orang-orang yang paling jahat di dunia ini. Bahkan itu yang membuat Trump mengatakan bahwa MBS, "menjilat p*ntatnya." Rasulullah saw menyebutnya wahn. Begitulah tatkala wacana tauhid hanya menjadi kepercayaan teologis yang relatif rumit, sementara implikasi praktisnya hanya dipatuhi secara selektif.
Di sisi lain, Iran dengan madzhab resmi yang dicap menyimpang bahkan -secara global- disebut kayakinan kufur oleh madzhab resmi Saudi, mampu membangun mentalitas petarung tangguh, meski selama puluhan tahun diembargo. Mereka mampu membangun pertahanan yang kuat, memiliki ribuan rudal balistik, memiliki kapal perang sendiri, memiliki jet-jet tempur, memiliki militer yang militan, dan sejauh ini mampu melayani pertempuran selama berminggu-minggu melawan AS dan Israel. Ya, karena Iran dipaksa oleh situasi untuk mandiri, dan dipaksa untuk tangguh.
Apakah negara-negara teluk seperti Saudi tidak bisa lebih baik dari Iran? Tentu saja bisa. Nyatanya, keterpaksaan bisa mengajari Iran. Itu menunjukkan bahwa umat Islam sejatinya punya potensi material untuk menjadi kuat.
Apakah Saudi harus mengalami embargo untuk menjadi lebih baik dari sekarang? Jawabnya tentu tidak. Kita umat Islam hanya membutuhkan motivasi yang kuat untuk bisa menjadi tangguh dengan segala risikonya.
Sejatinya, akidah Islam, akidah tauhid, jika ditempatkan dengan semestinya oleh umat Islam akan mendorong mereka untuk bangkit dan lebih kuat. Akidah ini mewajibkan kita untuk menjadi umat yang bermartabat; tidak tunduk kepada kekufuran dan kezaliman. Akdiah Islam menuntut umatnya untuk bisa melindungi kesudian agamanya, saudara-saudaranya dan wilayah-wilayahnya. Islam menuntut mereka untuk berani berjihad, menghadapi siapa saja demi mempertahan Islam, umat Islam dan negeri-negeri Islam, bahkan untuk menyebarkan Islam. Itu jika tauhid yang lurus benar-benar ditempatkan sebagai "ideologi nyata" dan kekuatan spiritual bagi negara, bukan sekedar simbol resmi yang dijadikan tameng kekuasaan.
Sayangnya, semua itu mati, tak menyala, demi sesuatu yang dianggap lebih berharga, yaitu stabilitas. Itulah yang membuat umat ini tak berwibawa dan tak bisa bersikap dengan benar di kancah internasional.
Benar kata Sayyidina Abu Bakar ra, "Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fi sabilillah kecuali Allah menimpakan kehinaan atas mereka."

=========

Catatan kaki oleh Admin:

[1] Penafian, Disclaimer adalah pernyataan penolakan tanggung jawab, penafian, atau sangkalan resmi yang bertujuan melindungi individu/organisasi dari tuntutan hukum atau risiko akibat penggunaan informasi/produk. Fungsinya membatasi tanggung jawab, memberi peringatan risiko, serta menjelaskan batasan informasi (seperti kesehatan/keuangan)

Post a Comment

0 Comments