FB Husni Mgz | FYI, pola yang sama juga kita alami di tubuh Kaum Salafi-Wahabi. Saat ini ada dua arus besar di tubuh Salafi: Salafi Murni dan Salafi Jihadi. Penamaan ini bukan berasal dari komunitas Salafi itu sendiri, baik yang 'murni' atau 'jihadi'. Labeling ini murni dilakukan oleh para peneliti dan akademisi yang mengkaji bidang sejarah dan geopolitik. Mengapa keduanya sama-sama disebut Salafi? Karena secara pengakuan, keduanya mengklaim kembali kepada Manhaj Salaf, merujuk pada tokoh klasik seperti Ahmad ibn Hanbal, Ibn Taymiyyah dan Muhammad ibn Abd al-Wahhab Namun interpretasi terhadap jihad, politik, dan negara berbeda jauh.
Keduanya (baik Salafi Murni ataupun Jihadi) sama-sama mengaku mengikuti Manhaj Salaf (pemahaman Islam generasi awal: sahabat, tabi'in, dan tabi'ut tabi'in), tetapi berbeda dalam cara memandang jihad, negara, dan perubahan politik
Salafi Non-Jihadi (sering disebut Salafi Quietist) adalah adalah arus utama Salafi yang fokus pada dakwah, pendidikan, dan pemurnian akidah.
Yang membedakan kelompok ini dengan kelompok 'jihadi' adalah tidak melakukan pemberontakan terhadap pemerintah atau tidak mengeluarkan kritik yang frontal terhadap pemerintah sah. Mereka berpegang pada prinsip taat kepada penguasa Muslim, selama tidak diperintah melakukan maksiat dan selama umat islam aman melakukan ibadah dan menjalankan syariat.
Mereka juga memahami jihad secara ketat. Jihad bersenjata harus dipimpin penguasa sah dan memiliki syarat-syarat syar'i. Karena itu mereka menolak jihad individual atau aksi kekerasan non-negara. Karena sikapnya yang tidak konfrontatif terhadap negara sekuler-yang oleh jihadi dipandang negara cacat- sebagian akademisi menyebutnya Salafi Quietist.
Sebaliknya, Salafi Jihadi adalah kelompok yang menggabungkan ideologi Salafi dengan konsep jihad bersenjata untuk menegakkan negara Islam.
Tokoh ideologinya antara lain: Abdullah Azzam, 0sama bin Laden dan Ayman al-Zawahiri. Organisasi yang sering dikaitkan dengan ideologi ini misalnya al-qaeda.
Ciri utama dari gerakan ini adalah menganggap Jihad bersenjata sebagai kewajiban utama. Mereka menganggap dunia Islam sedang dijajah atau diperangi. Karena itu jihad dianggap fardhu ‘ain (kewajiban individu). Diantara mereka juga menerapkan takfir[1] terhadap pemerintah Muslim tertentu. Pemerintah yang dianggap tidak menerapkan syariat bisa dianggap Thaghut atau kafir.
Mereka menganggap perubahan harus dilakukan dengan perlawanan bersenjata, jihad global dan tidak terbatas pada wilayah tertentu. Konsep ini dipopulerkan oleh Abdullah Azzam pada masa perang Afghanistan melawan Uni Soviet.
Dua kelompok ini sama-sama mengklaim kebenaran dan menganggap pihak lain keluar dari kesalafian.
Salafi Murni menganggap Salafi Jihadi keluar dari koridor Islam karena telah melenceng dari tuntunan Salaf untuk taat pada Ulil Amri. Salafi Murni juga seringkali menuduh Salafi Jihadi berpaham Khawarij karena dianggap salah kaprah memahami jihad. Menurutnya, jihad harus bersama ulil amri/penguasa.
Sebaliknya, Salafi Jihadi menganggap Salafi Murni terjatuh pada pola pikir Murji'ah[2] karena mereka berpikir jihad terhadap penguasa yang dianggap kafir bagian dan aspek ibadah. Salafi Jihadi mengatakan bahwa tidak semua syariat bisa diakomodir di dalam pemerintahan yang tidak menerapkan ajaran islam secara komprehensif. Ibadah ritual mungkin bebas dilakukan, tapi hukum syariat lainnya seperti qisas disebutkan dalam Alquran.
Pertentangan diantara kedua kelompok ini ternyata juga dimanfaatkan oleh NU Liberal untuk memojokan semua entitas Salafi dengan senjata 'Salafi Jihadi ini. Sehingga muncul sebuah wacana keliru: semua terorisme itu bersumber dari ajaran Wahabi. Mereka sengaja membuat narasi ini untuk menggebuk semua gerakan Salafi tanpa peduli adanya Salafi yang justru sangat berseberangan dengan Salafi Jihadi yang keras.
Apa yang menjadi klaim kebenaran diantara dua pusaran Salafi Murni vs Jihadi bukanlah akhir dari pertentangan. Karena konon di tubuh keduanya sendiri muncul perselisihan dengan saling tahdzir[3] pada perkara remeh.
Misal, di kelompok Salafi Murni, ada pertentangan antara Salafi RRI[4] dengan Rodja.[5] Salafi RRI sering men tahdzir Salafi Rodja sebagai salafi yang terkontaminasi. Belum soal Ihya Turast[6] dan semisalnya.
Sebaliknya, di komunitas jihadi sendiri juga tak lepas dari friksi. Diantara mereka memang ada yang keluar dari manhaj dan lebih dekat pada paham Khawarij dalam masalah takfir yang tentunya sangat berbahaya. Mayoritas masih berpandangan moderat dengan tidak mengkafirkan sesama muslim. Mereka hanya menganggap sistemnya yang bermasalah, umatnya tidak.
Lalu bagaimana pandangan penulis sendiri? Bagi penulis, label apa pun yang disematkan atau diklasifikasikan oleh orang-orang tidak akan mempengaruhi kualitas seseorang di hadapan Allah.
Selama seseorang berpegang teguh pada Quran dan Sunnah, mengikuti manhaj sahih, dan beramal, Allah akan berikan ganjaran terlepas apa pun labelnya dan seperti apa dia menyebut dirinya.
Penulis sendiri lebih nyaman berada di lingkungan Salafi dan lebih sering menyimak kajian Salafi, tapi pasti ada yang menganggap saya kurang Salafi. Its ok. Karena kita tidak butuh pengakuan manusia dan apa pun yang dilontarkan dari lisan manusia tidak berpengaruh apa pun.
Yang jelas, baik di Salafi Murni atau Salafi Jihadi, kedua-duanya memiliki orang-orang yang ekstrem dalam berpikir dan berucap yang menurut timbangan syariat keluar dari kaidah Islam.
Salafi murni yang ekstrem gampang mengumbar tahdzir demi kepentingan ego kelompoknya. Tahdzir tidak hanya dilontarkan kepada orang-orang di luar komunitas Salafi, tetapi juta dilontarkan kepada sesama Salafi meski hanya pada urusan yang sangat-sangat remeh. Misal, melihat seseorang berfoto dengan tokoh Ormas lain yang bukan Salafi saja langsung ditahdzir, dianggap keluar dari manhaj.
Sebaliknya, Salafi Jihadi ekstrem gampang mengkafirkan dan gampang menuduh label Murji'ah kepada pihak Salafi yang bersebrangan. Tapi tidak semuanya seperti itu.
Salafi Murni yg bersikap ekstrem sendiri banyak yang begitu gampang menuduh khawarij. Kritik pemerintah secara sopan dengan data valid pun dituduh khawarij. Mempertanyakan kebijakan pemerintah dikeluarkan dari manhaj karena mirip khawarij. Kan repot.
==========
Catatan kaki oleh admin:
[1] Takfir, sebutan untuk individu atau kelompok Muslim yang secara sepihak dan radikal menuduh sesama Muslim lainnya sebagai kafir (murtad) karena perbedaan pandangan, politik, atau praktik keagamaan yang dianggap tidak sejalan dengan pemahaman mereka.
[2]Murji'ah, "menunda" vonis terhadap seorang Muslim yang melakukan dosa besar. Menurut mereka, status keimanan seseorang tidak hilang karena dosa, dan keputusan akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah di hari kiamat kelak.
[3] Secara istilah, tahdzir adalah tindakan memperingatkan umat Muslim dari bahaya atau penyimpangan seseorang (atau kelompok) agar mereka tidak terpengaruh oleh kesalahan, kesesatan, atau bid'ah yang dibawa oleh orang tersebut
[4] Kelompok ini umumnya merujuk pada komunitas Salafi yang sangat menekankan pada pentingnya bimbingan ulama dan kepatuhan kepada pemerintah yang sah (taat waliyul amri). Di Indonesia, jaringan ini sering dikaitkan dengan situs atau saluran seperti Radio Islam Indonesia (radioislam.or.id)
[5]Salafi Rodja merujuk pada komunitas dakwah Salafi di Indonesia yang berafiliasi dengan Radio Rodja dan Rodja TV, yang berpusat di Cileungsi, Bogor.
[6] Singkatnya, Ihya’ ut-Turats adalah organisasi donor asal Kuwait yang menjadi "garis batas" pemisah antara kelompok Salafi yang sangat ketat (RII) dengan kelompok Salafi yang lebih terbuka (seperti Rodja atau Al-Irsyad).
Pandangan Salafi RII (Salafi Yamani): Mereka sangat keras melarang kerja sama dengan Ihya’ ut-Turats. Alasannya, organisasi ini dianggap memiliki pemikiran Hizbi (fanatik golongan), terlibat dalam politik praktis di Kuwait, dan bekerja sama dengan berbagai kelompok Islam lain (inklusif) yang dianggap menyimpang.
Pandangan Salafi Rodja/Lainnya: Sebagian ustaz (seperti di Rodja atau yayasan-yayasan lain) bersikap lebih longgar atau menerima bantuan dari organisasi ini selama bantuan tersebut digunakan untuk dakwah Sunnah yang murni dan tidak ada ikatan yang merusak prinsip agama.
Dampak: Perbedaan sikap terhadap organisasi inilah yang memicu aksi tahdzir besar-besaran di internal Salafi. Jika seorang ustaz menerima bantuan atau bekerja sama dengan Ihya’ ut-Turats, maka kelompok Salafi RII biasanya akan menahdzir ustaz tersebut dan melarang jamaahnya untuk mengambil ilmu darinya.
0 Comments