Ad Code

Responsive Advertisement

Tatkala Agama Menjadi Alat Politik

 


FB Firman Syah | Ramadhan dan Idul Fitri 2026 seperti menampar satu kebohongan lama yang terlalu sering dipoles jadi kebenaran. Selama puluhan tahun, dunia Islam dituduh sebagai sumber teror. Seolah-olah kekerasan lahir dari iman. Seolah-olah masjid adalah pabrik radikalisme. Tapi sekarang, satu per satu retakan itu terbuka.
Pengakuan mantan orang dalam Central Intelligence Agency bukan sekadar gosip pinggiran. Itu seperti membuka pintu belakang sejarah—bahwa operasi gelap, pendanaan kelompok bersenjata, dan permainan geopolitik bukan teori konspirasi murahan. Itu strategi.
Lalu Arab Saudi sendiri mengakui: penyebaran paham Wahabi bukan murni dakwah, tapi bagian dari proyek besar menghadapi Uni Soviet, dengan dorongan dari Amerika Serikat.
Artinya apa?
Artinya “terorisme global” yang selama ini dituduhkan ke umat Islam… tidak lahir di ruang hampa. Ia dibentuk. Dipelihara. Diarahkan. Dan ironisnya—setelah api itu membesar—yang pertama kali dituding sebagai pelaku adalah korban narasinya sendiri.
Ini bukan soal membela kekerasan. Tidak. Kekerasan tetap salah.
Tapi yang lebih berbahaya adalah kebohongan sistemik: ketika satu kekuatan global bermain dua wajah—di satu sisi menciptakan konflik, di sisi lain menjual dirinya sebagai pemadam.
Dan umat Islam? Dijadikan panggung. Dijadikan kambing hitam. Dijadikan musuh yang selalu siap dipanggil saat dunia butuh alasan untuk perang.
Ramadhan kali ini seperti membersihkan kabut itu.
Bahwa yang selama ini disebut “perang melawan teror”… mungkin sejak awal adalah teror yang disusun, lalu dijadikan alasan untuk perang tanpa akhir.

=============

FB Firman Syah | Ini bukan sekadar pengakuan. Ini semacam “terlambat jujur” dari seorang Mohammed bin Salman tentang sebuah proyek besar yang selama ini diselimuti narasi suci.
Mari kita telanjangi pelan-pelan.
Selama puluhan tahun, apa yang disebut “pemurnian agama” itu dijual ke umat sebagai jalan kembali ke tauhid yang bersih. Wahabi-Salafi dipresentasikan sebagai cahaya yang mengusir bid’ah, menghapus syirik, dan menyelamatkan akidah. Tapi sekarang, dari mulut kekuasaan sendiri, kita dengar sesuatu yang pahit: itu juga proyek geopolitik.
Bukan murni dakwah. Bukan sekadar ijtihad. Tapi bagian dari strategi perang dingin melawan Uni Soviet.
Di titik ini, kita harus berani jujur: agama pernah—dan mungkin masih—dipakai sebagai alat.
---
Wahabi sebagai ajaran spiritual tidak lahir sebagai monster. Ia lahir sebagai gerakan purifikasi—upaya membersihkan praktik yang dianggap menyimpang. Dalam kerangka teologis, itu sah-sah saja. Banyak gerakan reformasi dalam sejarah Islam melakukan hal yang sama.
Masalahnya bukan di niat awal. Masalahnya adalah ketika ajaran itu diberi “bensin politik”.
Ketika kekayaan minyak Arab Saudi mengalir ke masjid, madrasah, buku, dan dai di seluruh dunia—yang tersebar bukan cuma tauhid, tapi juga cara pandang yang kaku, hitam-putih, dan sering kali anti terhadap keragaman lokal.
Di Indonesia, ini terasa jelas. Tradisi yang sudah berabad-abad hidup—tahlilan, maulid, ziarah—tiba-tiba divonis sesat. Masyarakat yang tadinya damai jadi saling curiga. Agama yang harusnya menenangkan justru berubah jadi alat menghakimi.
Dan kita sering lupa: ini bukan terjadi di ruang hampa. Ini bagian dari distribusi pengaruh global.
---
Masuk ke level geopolitik, ceritanya makin telanjang.
Saat Perang Dingin memanas, dunia Islam menjadi medan perebutan pengaruh. Barat butuh benteng ideologis untuk melawan komunisme. Dan Saudi—dengan Wahabinya—menjadi alat yang “sempurna”.
Hasilnya? Wahabi tidak hanya jadi mazhab. Ia jadi instrumen.
Instrumen untuk melawan komunisme.
Instrumen untuk menahan pengaruh Iran.
Instrumen untuk membentuk “blok Sunni” versi tertentu.
Di titik ini, kita harus berani bilang: ini bukan lagi soal agama, ini soal kekuasaan.
---
Lalu datang era modern. Tragedi seperti Serangan 11 September 2001 mengguncang dunia. Nama Wahabi ikut terseret dalam diskursus global tentang radikalisme. Apakah semua Wahabi radikal? Tidak. Apakah ajarannya otomatis melahirkan kekerasan? Tidak sesederhana itu.
Tapi kita juga tidak bisa pura-pura buta: doktrin yang eksklusif, mudah mengklaim kebenaran tunggal, dan gemar melabeli “sesat”—itu adalah tanah subur bagi ekstremisme jika disalahgunakan.
Dan ketika negara pernah mendanai penyebaran ideologi itu secara masif, lalu sekarang berkata “itu dulu, sekarang kita mau kembali ke jalan yang benar”… pertanyaannya sederhana: Siapa yang menanggung dampaknya?
Jawabannya: umat.
---
Yang lebih ironis, di saat retorika keagamaan masih bicara tentang Al-Aqsa, tentang solidaritas umat, di belakang layar kita melihat permainan lain. Relasi diam-diam Saudi dengan Israel, koordinasi keamanan, kepentingan bersama melawan musuh yang sama—semuanya menunjukkan satu hal: politik tidak pernah benar-benar suci.
Dan di sinilah kita harus tegas membedakan: Wahabi sebagai ajaran ≠ kebijakan Saudi sebagai negara. Tapi masalahnya, selama puluhan tahun keduanya dikemas jadi satu paket. Jadi ketika politiknya berubah arah, umat ikut bingung.
---
Jadi kritiknya harus jelas dan jujur: Wahabi-Salafi sebagai ajaran spiritual punya basis teologis yang sah dalam Islam Sunni. Tapi ketika ia dijadikan alat ekspansi, alat hegemoni, alat perang ideologi—ia kehilangan kemurniannya.
Dan Wahabi-Salafi dalam konteks geopolitik global? Itu bukan lagi sekadar agama. Itu adalah soft power. Soft power yang dibiayai minyak. Didorong ketakutan Barat terhadap komunisme. Dan dimainkan dalam rivalitas kawasan.
---
Yang paling menyakitkan bukan pengakuannya. Yang paling menyakitkan adalah fakta bahwa umat selama ini diseret masuk ke dalam permainan itu—tanpa pernah benar-benar diberi tahu. Dan sekarang, setelah puluhan tahun, ketika semuanya mulai diakui…
kita baru sadar: ternyata yang selama ini kita anggap “perang akidah”…
sebagian di antaranya adalah “perang kepentingan”.


Post a Comment

0 Comments