Ad Code

Responsive Advertisement

Perang: Muslihat Kapitalisme



FB Tikwan Raya Siregar | Pembacaan Ayatullah Khamenei terhadap sejarah Amerika melalui buku Uncle Tom's Cabin (Gubuk Paman Tom) cukup menarik bagi saya. Kebetulan saya juga telah membaca novel tersebut dan telah melewatkan poin penting ini.
Perang Utara-Selatan yang diklaim sebagai sejarah pembebasan budak kulit hitam, dibongkar oleh Khamenei sebagai penipuan besar, yaitu hanya untuk berusaha menghapus kebobrokan mental bangsa kulit putih di benua taklukannya itu.
Saat itu, di bagian selatan, yang berkembang adalah pertanian, dimana para budak bekerja di lahan-lahan yang luas tanpa upah, kecuali sekadar makan untuk melanjutkan hidup. Mereka diperlakukan hampir sama dengan binatang, bahkan ada yang lebih rendah dari itu.
Sementara di utara, yang berkembang adalah industri dan perdagangan. Kawasan ini sangat memerlukan tenaga kerja murah untuk mendapatkan keuntungan besar. Perlu diketahui, pada saat itu faktor tenaga kerja masih menduduki unsur biaya yang cukup tinggi di dalam proses bisnis.
Utara ingin merekrut sebagian budak di selatan agar mendapatkan tenaga kerja murah. Dan tentu tidak ada pekerja yang lebih murah dari budak. Lalu mereka mengobarkan perang dengan alasan "mulia", untuk menghapuskan perbudakan. Inilah yang ditulis secara resmi dalam sejarah nasional Amerika.
"Apakah mereka memang benar-benar ingin membebaskan budak?" tanya Khamenei, yang kemudian dia jawab sendiri, "Tidak!"
Dengan propaganda perang tersebut, orang-orang Utara menargetkan agar para budak selatan mengungsi dan melarikan diri ke utara. Ya, di sana mereka ditampung dan diberikan pekerjaan. Hanya berubah nama menjadi buruh. Dan nasibnya tidak jauh berbeda.
Para budak itu sebagian besar adalah Kristen yang taat. Seperti tokoh Paman Tom yang baik hati. Orang-orang kulit putih di Utara maupun Selatan tidak peduli dengan umat seagama mereka. Para imigran Eropa itu telah membantai suku Indian, dan tidak ada kesungkanan bagi mereka untuk menghisap tenaga dan darah orang kulit hitam. Mereka selalu membawa standar ganda, atau double agenda. Itu sekitar tahun 1860.
Jauh setelahnya, hingga kita mendengar kesaksian satirnya Mohamad Ali, The Greatest, pada tahun 1990-an, diskriminasi rasial itu masih lazim terjadi. Mulai dari polarisasi hunian, pemisahan gereja, hingga kode pergaulan.
Dan hingga hari ini, Presiden Trump terlihat mulai kumat lagi penyakit ras dominannya. Jikalau bukan karena masyarakat kulit hitam memperjuangkan sendiri nasibnya, maka mereka akan tetap menjadi warga kelas dua.
Jadi, ada penyakit genetis dan kultural yang masih menjadi beban besar di Amerika. Itu tertanam dalam doktrin dan alam bawah sadar mereka, terutama pada generasi tua yang sudah mau mampus.
Dengan bacaan ini, Khamenei telah membuat kesimpulan yang hati-hati. Bahwa orang-orang berkuasa di Amerika tidak bisa dipercaya. Mereka akan selalu menciptakan tipuan dan propaganda yang berbahaya. Mereka tidak memegang kehormatan. Mereka hanya dapat ditundukkan dengan motif uang, kesenangan, dan kekayaan. Sebagaimana yang telah dibuktikan oleh orang-orang Yahudi. Atau dengan ketegasan sebagaimana yang ditunjukkan oleh orang Iran.
Dan Amerika saat ini memerlukan minyak. Siapa yang menyuapinya dengan minyak, dan tidak mengganggu majikannya--Israel--maka aman. Sebagaimana yang diperagakan oleh negara-negara Arab bentukan Inggris, yang berkasih sayang dengan Amerika melalui mekanisme "petro-dollar".
Adapun kita di Indonesia harus banyak berpura-pura, supaya anunya tidak anu kali.

Post a Comment

0 Comments