
FB Abdus Syukur | Pegang erat hati kalian, wahai pembaca, karena inilah saksi bisu atas apa yang dilakukan oleh bangsa yang mengaku "beradab" terhadap seorang Maharaja Muslim.
Di hadapan Anda adalah potret terakhir Maharaja Muhammad Bahadur Shah Zafar, yang diabadikan pada hari-hari terakhirnya di tahun 1862. Ia adalah penguasa terakhir dari dinasti Muslim India. Dalam gurat wajahnya, terpahat kelelahan yang luar biasa, kelemahan raga, dan kesedihan yang mendalam. Di atas ranjang kematiannya di pengasingan Myanmar, ia menggoreskan kepedihan:
"Bukannya mereguk beningnya air Zamzam, aku di sini justru terpaksa meminum air mata darah."
Masa Keemasan: Saat India Menguasai Dunia
Sejarah mencatat bahwa umat Islam memimpin India selama delapan abad, di mana tiga abad di antaranya dikuasai oleh Kekaisaran Mughal Islam. Kala itu, India berada di puncak keemasannya; sebuah imperium raksasa yang disegani kawan dan ditakuti lawan.
India Islam bertransformasi menjadi kekuatan salah satu yang paling perkasa di dunia:
• Militer: Memiliki pasukan kolosal sebanyak 4 juta prajurit yang didukung oleh barisan gajah perang yang menggetarkan bumi.
• Ekonomi: Menyumbang 23% dari total produksi dunia. Saat itu, gabungan seluruh negara Eropa tampak kerdil dan tak berarti di hadapan kemegahan India.
Retaknya Pilar Kekuasaan
Namun, roda zaman berputar. Kekuatan besar itu perlahan merapuh. Para pemimpinnya mulai terbuai oleh kepentingan pribadi, menumpuk harta rampasan perang untuk diri sendiri. Celah ini dimanfaatkan oleh Nader Shah dari Persia yang menyerbu pada tahun 1740. Delhi, sang ibu kota, luluh lantak; penduduknya dibantai, dan harta bendanya dijarah habis-habisan.
Kelemahan inilah yang menjadi pintu masuk bagi Inggris. Mereka menyelinap melalui jubah dagang East India Company [EIC], menggunakan siasat licik dan lidah yang penuh tipu daya. Mereka mencengkeram Delhi, menguasai Punjab, dan baru terhenti ketika keberanian rakyat Afghanistan memukul mundur mereka dalam kehinaan.
Tragedi yang Tak Terbayangkan oleh Nurani
Ketika takhta Bahadur Shah runtuh, Inggris melakukan kekejaman yang melampaui batas nalar manusia—sebuah kebiadaban yang bahkan membuat kaum cendekiawan Inggris sendiri merasa malu.
Tiga putra Bahadur Shah disembelih tanpa ampun. Di dalam penjara, Inggris mengirimkan makanan kepada sang Maharaja. Di atas meja, diletakkan sebuah wadah tertutup. Saat Bahadur Shah membuka penutupnya untuk makan, ia terperanjat: di hadapannya tergeletak tiga kepala putra-putranya yang bersimbah darah.
Namun, martabat seorang raja dan harga diri seorang Muslim membuatnya berdiri tegak di atas tragedi itu. Alih-alih meratap di depan musuh yang mencemooh, ia menatap mereka dengan tatapan baja dan berkata:
"Putra-putra raja Islam yang pemberani memang selalu kembali kepada ayah mereka dengan wajah memerah seperti ini."
Dalam kiasan bahasa Urdu, "wajah merah" adalah simbol kejayaan, kebanggaan, dan syahidnya seorang ksatria di medan laga.
Padamnya Cahaya Islam di Tanah Hindia
Itulah halaman terakhir dari catatan kekuasaan Islam di India yang telah berdiri tegak selama lebih dari delapan abad. Sejak hari kelam itu, kejayaan Islam tak lagi bangkit di tanah yang luas tersebut. La hawla wala quwwata illa billah.
Bahadur Shah dibuang ke Rangoon, Myanmar. Ia menghabiskan sisa hidupnya dalam bilik sempit, menelan pahitnya kesedihan hingga ajal menjemputnya pada usia 89 tahun. Empat tahun di pengasingan, ia terus membisikkan kalimat yang sama:
"Bukannya meminum air zamzam, aku tetap di sini meminum air mata darah."
Referensi: Dzikriyat, Syekh Ali Ath-Thantawi, Jilid 5, hal. 266.
0 Comments