Ad Code

Responsive Advertisement

Beras di Irian?



FB Balqis Humaira | Tersinggung? Institusi bersenjata dengan anggaran triliunan rupiah, pegang kendali keamanan negara, tapi mentalnya setipis kertas fotokopian cuma gara-gara sebuah film dokumenter? Ini bukan cuma lucu, ini ironi yang menjijikkan.
Lu mau tau yang sebenarnya dibongkar sampai bikin mereka kebakaran jenggot dan main bredel di mana-mana? Film Pesta Babi yang dirilis April 2026 kemarin itu bukan fiksi, bukan provokasi murahan. Karya Dandhy Laksono, Watchdoc, bareng Jubi dan Greenpeace itu adalah cermin retak yang ditabrakkan langsung ke muka munafik rezim Jakarta. Mereka marah karena borok bernanah yang selama ini disembunyikan rapat-rapat di balik karpet "Proyek Strategis Nasional" akhirnya ditelanjangi di depan publik dengan resolusi tinggi.
Selama ini otak kita dicuci pakai narasi heroik. Tentara dikirim ke Papua katanya buat jaga kedaulatan, numpas separatis, ngamanin batas negara. Omong kosong! Fakta di lapangan yang direkam dengan brutal dalam film itu nunjukin realitas sebaliknya. Laras panjang dan seragam loreng itu lebih sering berfungsi jadi satpam berbayar, anjing penjaga buat korporasi raksasa dan oligarki yang lagi ngeruk habis-habisan bumi Cenderawasih.
Lu bayangin, duit pajak yang lu bayar tiap hari dipakai buat ngebangun pangkalan militer besar-besaran di tengah hutan yang isinya cuma masyarakat adat. Buat apa? Buat ngelawan OPM? Bullshit.
Itu buat ngamanin investasi. Ketika alat berat perusahaan datang mau ngegusur tanah ulayat, yang maju duluan bukan direktur perusahaannya, tapi aparat bersenjata. Kalau ada Orang Asli Papua (OAP) yang berani nahan buldozer karena di situ ada kuburan nenek moyang mereka, mereka langsung diintimidasi, dicap anti-pembangunan, atau lebih parah, dicap separatis. Ini aib paling hina. Kebanggaan sebagai prajurit rakyat direduksi cuma jadi centeng pemodal. Dan ketika kebenaran ini didokumentasikan, tentu saja mereka "tersinggung". Ego kekuasaan yang udah karatan memang selalu alergi sama cermin.
Lalu masuk ke kebohongan paling sistematis dan menjijikkan abad ini: Food Estate. Ketahanan pangan. Narasi tai kucing macam apa itu?
Di berita nasional, menteri-menteri ngomong dengan dasi rapi soal pentingnya lumbung pangan buat masa depan. Mereka buka jutaan hektar lahan di Papua Selatan—Merauke, Boven Digoel, Mappi. Dalihnya mulia banget, kan? Tapi Pesta Babi mengiris narasi palsu ini sampai ke tulang-tulangnya.
 
Yang terjadi di sana itu bukan pertanian, itu genosida ekologis. Hutan hujan tropis purba, habitat endemik, paru-paru dunia yang udah berdiri ribuan tahun dibabat habis. Dibuldozer rata sama tanah. Dan diganti pakai apa? Tebu! Hamparan monokultur tebu jutaan hektar milik korporasi Jakarta.
Sejak kapan orang Papua makanan pokoknya gula dari tebu? Makanan mereka itu sagu. Hutan yang dihancurkan itu adalah nyawa mereka, "supermarket" alami tempat mereka berburu babi, cari ikan, panen sagu.
Dengan ngebabat hutan itu, negara secara sadar sedang mencekik sumber kehidupan suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu. Lu ngancurin peradaban mereka demi bikin pabrik bioetanol dan gula pasir buat orang kota dan kepentingan industri. Ini bukan soal ngasih makan orang miskin, ini murni ekspansi agribisnis rakus. Dan negara memfasilitasi perampokan gila-gilaan ini dengan selembar kertas konsesi yang diteken dari ruangan ber-AC di Jakarta.
Lu tau gimana rasanya jadi mereka? Tanah leluhur lu yang nggak pernah lu jual, tiba-tiba diklaim sama perusahaan berbekal kertas berstempel garuda. Proses negosiasinya penuh manipulasi. Masyarakat adat dibohongi, disogok dengan nominal yang menghina akal sehat, atau ditekan pakai moncong senjata. Buat orang Papua, tanah itu ibu kandung, tempat roh leluhur bersemayam. Negara dengan congkaknya maksa mereka melepaskan itu semua, mengubah tuan tanah yang merdeka di alamnya sendiri menjadi kuli kasar bergaji rendah di atas tanah rampasan. Itu namanya perampokan berdasi yang dilegalkan oleh hukum kolonial gaya baru.
Dan apa akibatnya? Ekosida. Kehancuran lingkungan yang nggak bisa diperbaiki lagi. Sungai-sungai yang dulunya jadi urat nadi kehidupan sekarang berubah warna, tercemar limbah, beracun. Ikan mati, sumber air bersih hilang. Mereka memusnahkan satu ekosistem raksasa demi muterin duit para taipan.
Ketika semua kejahatan terstruktur ini dirangkum dalam satu karya jurnalistik audio-visual, paniklah para penguasa. Paranoid! Lu lihat aja kelakuan norak mereka di berbagai daerah. Acara nonton bareng di kampus-kampus dibubarkan. Di Ternate direpresi, di Mataram diintimidasi, intel-intel dikerahkan, ormas-ormas reaksioner piaraan tiba-tiba muncul bikin rusuh buat ngegagalin pemutaran.
 
Orang yang benar nggak akan pernah takut sama fakta. Kalau isi Pesta Babi itu fitnah, buktikan! Buka data, adu argumen di ruang publik. Tapi mereka nggak punya data buat ngebantah, karena semua yang ada di film itu adalah fakta telanjang.
Satu-satunya senjata orang pengecut yang ketahuan belangnya adalah dengan membungkam mulut yang bicara dan menutup paksa mata yang melihat. Represi itu sendiri adalah pengakuan bahwa mereka bersalah.
 
Judul Pesta Babi itu adalah tamparan satire paling mematikan. Dalam budaya Papua, bakar batu atau pesta babi adalah ritual yang sakral, simbol keadilan komunal dan rasa syukur. Tapi yang terjadi sekarang, yang lagi berpesta pora di tanah Papua itu bukan orang Papua. Yang lagi berpesta dengan rakus, mengunyah hutan, menelan tanah, dan meminum darah masyarakat adat adalah oligarki dan elit politik di Jakarta. Mereka bertingkah persis seperti babi-babi rakus yang melahap apa saja di depannya tanpa sisa. Dan aparat? Mereka cuma penjaga gerbang pesta itu, memastikan nggak ada rakyat miskin yang berani ganggu jalannya perjamuan.
Jadi, kalau lu nanya kenapa mereka tersinggung, jawabannya karena kedok heroik mereka sudah dikuliti habis-habisan. Mereka marah karena kebusukan mereka sekarang terekam permanen, nggak bisa dihapus lagi pakai siaran pers atau pidato kenegaraan. Dan kalau lu dengar fakta ini tapi lu nggak ngerasa pengen muntah ngelihat kelakuan sistem di negara ini, berarti lu udah mati rasa. Sialan.

 

Post a Comment

0 Comments